Langsung ke konten utama

Prolog

Sudah bertahun lamanya mama menderita kanker. Hingga saat ini semua orang masih menduga-duga asal mula aktifnya sel mengerikan itu. Sementara, mama di-diagnosa mengidap kanker karna faktor genetik. Tentu kening kami sekeluarga langsung berkerut ketika menerima pernyataan tersebut dari dokter. Karna setau kami, mama lah orang pertama yang mengidap kanker dikeluarga besar kami.

Literasi kami mengenai penyakit yang diderita mama semakin kaya. Beberapa bagian membuat kami yakin mama terkena kanker karna gaya hidup yang kurang sehat. Mama sering kali tidak makan karena "lupa". Hingga sekarang aku masih mencari makna dari "lupa" tadi. Entah karna gak suka nasi, atau karna saking lelahnya menghidupi kami dan saudara-saudaranya, mama sampai tidak punya waktu untuk makan.

Semasa masih aktif bekerja menjadi salah satu PNS di lingkungan Kepolisian Republik Indonesia, mama adalah pegawai teladan. Datang paling pagi, pulang paling akhir. Terus menerus dilakukan mama selama kurang lebih 30 tahun lamanya. Bagi mama, mengerjakan sesuatu itu harus total. Lingkungan kantor juga harus bersih seperti di rumah agar nyaman. Mama pun tidak sungkan membantu tugas cleaning service di kantor  memastikan ruang kerjanya bersih sebelum ia mulai bekerja. 

Seingatku mama adalah orang yang selalu bersemangat menghadapi kehidupan. Baik susah maupun senang. Saat senang ketika baru gajian ia akan membawakan sekantung goreng pisang kesukaanku atau mungkin martabak manis di abang-abang martabak yang sudah lama menjadi langganan kami sekeluarga bukan hanya karna martabaknya enak, tapi karena gerobak martabaknya selalu terlihat bersih dan mengkilap. Mama suka sesuatu yang tertata dengan baik, rapi dan bersih. 

Sementara untuk menunjang keperluan rumah lainya, mama berjualan apapun sambil bekerja. Rokok, pulsa dan apapun yang berpotensi untuk dijadikan uang tambahan dan sanggup mama kerjakan. Aku sama sekali tidak melihat hal-hal yang dilakukan mama itu sebagai bentuk upaya bertahan hidup, melainkan sebagai hal-hal yang dilakukan karna disenangi mama. Lagian siapa yang tidak senang uang?
Hal inilah yang akhirnya diturunkan mentah-mentah padaku. Mama bisa merajut, aku juga. Mama suka berdagang, akupun sama.
Pernah suatu ketika, kami berdua iseng menjadi petugas bayaran untuk melipat surat suara di KPU yang kebetulan berada dekat rumah kami. Duit yang kami hasilkan tentu tidak begitu banyak, tapi menurutku seru aja. Bahkan mama sampai heran melihat semangatku yang waktu itu masih duduk di bangku SMP sangat telaten melakukan tugas itu. Tanganku seolah mewariskan seutuh-utuhnya ketelatenan tangan mama. 

Sebelum diangkat menjadi PNS, mama mengabdi kurang lebih 8 tahun lamanya menjadi pegawai honorer. Di tengah penghasilan bulanan yang pas-pasan mama juga harus membesarkan 5 orang adiknya. Definisi generasi sandwich. Kami semua tinggal disebuah rumah berukuran kecil di rumah dinas milik Polri di kota Painan, Kabupaten Pesisir Selatan. Di depan rumah kami ada sebuah pohon jambu. Pohonya berukuran cukup besar, hingga kalau berbuah cukup sulit untuk mengambil buahnya karna tinggi sekali puncaknya. Di bawah pohon itu ada ayunan dari ban bekas dan kursi kayu yang dibuat oleh Papa. Tempat favoriteku untuk menyantap makan siang sambil menyaksikan sapi-sapi melalap rumput.

Di bawah pohon jambu itu berjejer bunga-bunga warna-warni yang ditanam mama. Ada banyak sekali jenisnya, hingga ketika kami pindah rumah, maka bunga-bunga tadi akan lebih baik dibagi-bagikan ke tetangga ketimbang dibawa ke rumah baru. Karena saking banyaknya, jadi lebih baik untuk ditinggal dari pada harus dibawa.

Hidup menempa mama terus menerus. Hingga mama menjadi bunga baja berakar kawat. Kelopaknya kuat, daunya lancip, batangnya berulirkan besi. Tanaman yang akan menerobos sekalipun pondasi rumah. Mama juga sangat  suka dengan keteraturan. Menurutnya keteraturan membuatnya akan lebih mudah menjalani hidup. Rumah kami yang sederhana selalu terlihat rapi dan bersih hingga sering kali di nobatkan sebagai rumah percontohan bila diadakan lomba rumah rapi dan bersih di lingkungan tempat kami tinggal.

Karna mengemban banyak tugas dan beban, mama terbiasa mengatur segala sesuatu. Termasuk hal-hal kecil seperti baju apa yang akan anak-anaknya pakai ketika lebaran. Kakak sulungku pernah ngambek karna tidak dibiarkan mama memilih baju yang ia sukai. Sementara aku gak akan menggunakan baju yang tidak kusukai atau yang membuatku merasa tidak nyaman. Mama seringkali memaklumi watak anak bungsunya yang berkemungkinan besar mewariskan keras kepalanya sendiri.

Pada tahun 2004 keluarga kami memutuskan pindah ke luar kota. Kota Padang Panjang menjadi pilihan mama karna dikenal sebagai kota pendidikan. Dengan harapan baru untuk kedua anak perempuanya mendapat lingkungan pendidikan yang lebih baik. Maka kehidupan keluarga kami memulai babak baru dari sebuah rumah kontrakan di dalam gang di sebelah Kantor Pengadilan Negeri. Sungguh lokasi yang baik untuk mengenal kota Padang Panjang karena sangat dekat dengan alun-alun. Kami hanya perlu berjalan kaki kurang lebih 5 menit untuk sampai ke sekolah dan pusat keramaian di kota Padang Panjang. Dan baiknya lagi, sekolahku dan kakak sulungku bersebelahan. Sungguh cara yang nyaman untuk mengawali kehidupan di kota dingin yang baru dikenal ini.

Sejujurnya, kami gak pernah tau bagaimana kondisi keuangan mama. Walaupun kala itu kami belum punya rumah sendiri, namun kebutuhan pangan, papan dan sandang bahkan sebagian kecil tersierpun tercukupi. Walaupun belum punya rumah milik sendiri, tapi mama selalu menyewa rumah yang nyaman dan bagus untuk kami tinggali (bukan rumah petak), walaupun tidak mewah tapi kami punya kendaraan mobil dan motor. Semuanya ada, berkecukupan, namun sederhana.

Berbeda dengan ketika masih tinggal di Kota Painan, kini suasana rumah lebih tenang. Karna hanya dihuni oleh kami berempat. Hanya ada mama, papa, kak Vony dan aku. Berbeda dengan dulu, 5 adik mama hidup bersama kami. Dulu dirumah kecil milik negara dengan dua kamar itu, kami tinggal bersama. Entah bagaimana cara mama menata agar rumah mungil itu selalu terasa cukup bagi semua penghuninya. Entah bagaimana mama mencukupi kebutuhan lauk pauk kami semua, sementara papa pulang sekali 2 minggu karna bekerja di kota lain. Ikut bertanggung jawab membesarkan ke-5 adiknya sungguh pilihan dan cara hidup yang sulit di hitung ditengah segala keterbatan yang mama miliki, tapi mama anak tertua dari 9 bersaudara. 

Tidak hanya harus membesarkan dan menjaga adik-adiknya, rumah kami juga sering menjadi rumah singgah saudara-saudara jauh mama yang tinggal di kampung ketika harus berobat ke kota Painan. Karena di kampung tempat Oma dan Opa tinggal fasilitas kesehatan belum sebaik di ibu kota provinsi tempat kami tinggal. Semoga kebaikan mama menjadi amalan yang dibawa mama di hari akhir. Memberi mama kartu bypass menuju surga yang Allah janjikan untuk setiap kebaikan. Amin ya Rabbal Alamin.

Menjaga dan membesarkan adik-adik yang rata-rata perempuan dan sedang melewati masa pubertas tidaklah mudah. Mama merasa tanggung jawab untuk menjaga adik-adiknya sepenuhnya adalah miliknya. Padahal hal itu tidak pernah benar-benar adanya. Karna Oma dan Opa kala itu masih ada. Mama cukup keras mengatur segala sesuatu di rumah agar semua berjalan baik-baik saja. Namun tentu saja hal itu tidak akan sepenuhnya berjalan sesuai harapan.

Pilihan mama meninggalkan segala tanggung jawabnya setelah 16 tahun menjalani peran sebagai ibu sambung untuk adik-adiknya, menurutku adalah keputusan paling baik yang pernah mama ambil semasa hidupnya. Walaupun di kota yang baru kami tinggali ini biaya hidup lebih besar, tapi mama terlihat lebih bahagia. Namun sesekali mama merindukan rumahnya ramai. Oleh , mama sering mencari 'adik sambung' baru di sini. Para adik sambung ini nantinya akan sering ke rumah. Entah itu hanya menjadi teman ngobrol mama, makan siang bahkan memasak bersama mama di dapur. Aku tau membawa teman baru untuk sering berkunjung ke rumah bukanlah hal yang sepenuhnya baik. Namun setelah 2 tahun mama tiada, aku berusaha memahami hal-hal luar biasa yang diakukan mama dulu.

Sejujurnya butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk memahami mama. Banyak hal yang tidak dapat kami mengerti. Kadang hanya dijawab waktu.  

Mama adalah tonggak paling kokoh. Jika roboh dan tak kuat lagi menopang beban, maka kami adalah puing-puingnya. Tidak disangka masa setelah kehilangan mama, nyatanya adalah masa tenang untuk memberi kami babak baru untuk lebih banyak memahami mama..






Komentar

  1. Nut, InsyaAllah mama dalam kasih sayang ALLAH 😇 Semangat menulisnya yaa 😊

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sore : Istri dari masa depan (Film Review)

Hai.. ini adalah postingan kedua blog ini. Setelah daftar hal-hal yang bakalan aku share di blog mulai menggunung, maka aku memutuskan untuk me-review salah satu film yang baru-baru ini aku tonton via youtube. Karna memang setau aku film ini tidak di pertontonkan di layar lebar, melainkan hanya diterbitkan di youtube per-episodenya. Sebenernya waktu itu aku ngga lagi pengen nonton film, tapi pas aku lagi dengerin lagu di salah  satu akun yang aku subscribe di youtube  (IndieLokal), muncul vidio rekomendasi dari youtube yaitu vidio clipnya lagu Kunto Aji yang mungkin baru-baru release, judulnya I'll Find You. Sebenernya sih aku ngga terlalu suka Kunto Aji, cuma karna latar belakang vidio clipnya sore-sore gitu aku jadi penasaran. Dan setelah aku dengerin. Yepp... lagunya ternyata bagus. Buat kalian yang mungkin juga suka lagu-lagu indie accoustic mungkin bakalan suka sama lagu Ill Find You dari Kunto Aji ini. Dan ada yang ngga kalah menariknya. Yaitu Vidio clipnya yang ...

Harga Sebuah Percaya - Tere Liye (Resensi Novel)

Hallo... Bulat 2 bulan sudah lamanya blog ini dicuekin. Kalau boleh sedikit curhat, sebenernya aku sedang menjalani hari-hari yang cukup sulit. Semenjak resmi menjadi pengangguran di Mei lalu, aku sibuk banget sama urusan nyari kerja. Beberapa minggu lalu aku diterima disalah satu Bank sebagai Frontliner. Dengan berat hati aku menolak hasil seleksi berhubungan dengan ketidaksetujuan orang tuaku dengan wilayah penempatanya yang cukup jauh. (Balada anak tunggal, hehe). Ini tentu tidak mudah buatku. Menolak pekerjaan?? Jaman now?? Siapa yang kuat?? Aku pasti dikira terlalu banyak makan micin pake teh setelah melakukan ini. Tapi, karna hatiku tenang setelah curhat sama Allah sehabis subuh waktu itu, insyallah aku akan dapat rejeki yang lebih baik. Awalnya takut kualat karna bisa dibilang "menolak rejeki" tapi aku berfikir lagi, semoga dengan besarnya pengorbananku ini aku bisa mendapat hal yang besar pula. Dan alhamdulillah saat ini aku udah di penghujung tes di Bank BRI Pad...